Pages

Selasa, 31 Maret 2015

Abel dan Acara Ulang Tahun

 
Gambar: iStockphoto.com
 
Hari itu, saya dan Abel sibuk sekali. Sibuk memilih-milih buku mana yang akan kami bungkus sebagai kado.
            Jadi ceritanya, hari adalah hari ulang tahun anak teman saya. Teman saya  berencana membuat pesta kecil-kecilan. Dia menyewa aula sebuah kafe yang berada tak jauh dari kawasan tempat kami tinggal, tempat saya dan teman saya tinggal. Karena tempatnya bukan di kompleks, sayapun ikut diundang sebagai tamu.
Sebenarnya Abel dan anak teman saya bukan teman akrab. Anak teman saya punya dunia sendiri dengan teman-teman tetangganya serta teman-teman sekolahnya, sementara Abel juga punya dunia sendiri meski belum bersekolah. Mereka cuma pernah bertemu sekali pas saya dan teman saya pergi bareng ke sebuah pesta. Intinya anak-anak kami menjadi saling kenal karena ibu-ibunya ini yang temanan. Oleh karena itulah, meski hanya pernah bertemu sekali, Abel juga tetap mendapat undangan ulang tahun dari anak teman saya.
Sebenarnya, ini bukan pertama kalinya Abel mendapat undangan ulang tahun. Dua tahun lalu dia pernah menghadiri pesta ulang tahun anak sekompleks. Waktu itu umurnya 2,5 tahun. Meski rumah anak yang mengundang hanya berjarak satu lorong saja dari rumah kami, saya tetap mengantarnya dan menjadi tamu undangan, hahaa…
Saya ingat, dua tahun lalu saat menghadiri undangan pesta ulang tahun tersebut, Abel hanya duduk, diam, dan tanpa aksi apa-apa. Maksud saya, ketika anak-anak lainnya ikut bernyanyi bersama sambil bertepuk tangan, dia malah melipir di dinding dengan muka tertunduk. Saat diminta ke depan dan bernyanyi, dia memandang saya. Saya mendatangninya dan memeluknya.
Ternyata, kejadian dua tahun lalu terulang lagi. Kali ini pesta ulang tahun anak teman saya.
Usai membungkus kado dengan cantik (cantik ala emaknya :D), saya tanya sekali lagi, apa Abel ingin menghadiri undangan tersebut atau tidak? Sebelumnya saya sudah menanyakannya juga. Jawabannya, dia sangat ingin datan ke acara ulang tahun tersebut. Dia menjawabnya dengan semangat yang menggebu. Untuk pertanyaan yang sama, dia pun masih memiliki jawaban yang sama.
Di hari H, Mr. Salmi mengantar saya dan Abel ke tempat acara. Setelah itu, Mr. Salmi pergi entah ke mana. Tentu saja, ini kan acara anak-anak, jadi Mr. Salmi menolak ketika kami mengajaknya gabung. Saya lihat, banyak anak-anak lain yang datang dengan didampingi kedua orang tuanya, dan mereka juga mengikuti acara anak-anak tersebut hingga selesai. Mr. Salmi ogah.  
Semua masih terlihat biasa sampai anak-anak pada berdatangan, duduk lesehan ramai-ramai memenuhi aula bagian depan. Para orangtua duduk di kursi-kursi yang telah disediakan oleh panitia. Sementara anak teman saya, duduk dengan manisnya di singgasana di atas panggung. Dia benar-benar cantik hari itu, seperti seorang putri.
Abel saya minta duduk dan bergabung dengan anak lainnya. Dia menurut, tapi dia tidak seaktif anak-anak lainnya. Ketika anak-anak lain ribut saling berceloteh, Abel diam saja. Sesekali dia melihat ke belakang, melihat saya. Saya memang sengaja duduk di deretan kursi paling depan. Saat saya lihat beberapa kali dia melihat-lihat ke belakang, saya langsung mendatanginya dan berbisik; “Abel kalau mau main dengan teman-teman lain, boleh kok, Nak! Ini teman-teman Ahza semua. Karena Ahza teman Abel, jadi mereka juga teman Abel.”
Dia diam saja. Saya kembali duduk di kursi.
Acara terus berlangsung. Dari pembukaan, baca doa bersama, tuntunan duduk-anak-soleh dari MC, tanya-tanyi, lucu-lucuan, nyayi-nyanyian, banyaaaak… Semua seru-seruan dunia anak-anak tersebut, tak satupun diikuti oleh Abel. Dari yang sesekali menoleh ke belakang (melihat saya), menjadi sering sekali, hingga akhirnya dia duduk dengan membelakangi panggung utama. Sekarang, dia duduk berhadapan dengan saya, membelakangi teman-temannya. Bedanya, sesekali dia menunduk, sesekali melihat ke arah saya. Tapi dia lebih sering menunduk ketika saya memanggil namanya.
Apa yang ditunjukkannya hari itu, bukanlah tingkah Abel seperti biasanya. Abel yang di rumah kami, Abel yang jika bermain dengan anak-anak kompleks, ributnya minta ampun, bahkan terkadang mendominasi. Semua anak kompleks yang kenal dengannya adalah temannya. Dia tidak malu-malu untuk mengajak bermain atau memulai percakapan dengan teman.
Saya datangi dia, lalu berbisik di telinganya, “Abel kenapa, sayang?”
Dia menggeleng.
“Abel kepingin kue-kue itu? Bubur atau minum?” tanya saya lagi.
Lagi-lagi dia menggeleng?
“Atau, Abel nggak mau duduk di sini?”
Dia mengangguk dengan cepat.
“Jadi, Abel mau duduk di mana?”
“Di samping Bunda,” jawabnya cepat.
Saya mengajaknya duduk di samping saya. Tak berapa lama, saya mengajaknya ke meja makanan. Dia memilih sendiri kue mana yang ingin dia makan dan meminta minuman yang tadi sempat ditolaknya. Kami kembali ke kursi, Abel makan dan minum dengan lahapnya, sementara di depan sana, anak-anak sedang seru-serunya dengan dunia mereka.  
MC yang memandu acara adalah guru anak teman saya. Dua begitu enerjik dan menggemaskan. Dia bisa membuat dunia anak-anak begitu ramai dan semarak. Intinya, dia sangat cocok menjadi guru TK. Sementara anak-anak yang datang ke acara ini, bisa dipastikan sebagian besar adalah teman sekolah Ahza. Sisanya adalah anak kenalan atau anak saudara dekat.
Selama duduk di samping saya, Abel sudah tersenyum kembali dan berceloteh apa saja. Sampai akhir acara.
Ketika keluar dari ruang tersebut, Abel seperti seseorang yang baru mendapat udara segar. Apalagi ketika Mr. Salmi, ayahnya, sudah menunggu di luar. Dia berteriak senang.
“Abel senang?”
“Senang, Bunda! Abel senang dapat balon, dapat coklat, dapat mainan lagi,” dia menunjukkan balon lucu dan mainan yang diberi oleh panitia acara, pada ayahnya. Di tempat saya, anak-anak yang datang ke acara ulang tahun, memang selalu diberi hadiah ketika acara selesai. Biasanya berupa makanan atau mainan. Setelah keluar dari tempat acara, Abel kembali menjadi Abel yang periang dan banyak bicara.  
Malamnya, saya mengajaknya berbicara.
“Abel, kalau ada undangan ulang tahun lagi, gimana? Apa Abel mau datang?” Dia jawab mau.
“Tapi kayaknya tadi Abel kelihatan nggak suka sama acaranya.”
“Abel malas Bunda, soalnya nggak ada yang Abel kenal di sana. Nggak ada kawan Abel.”
Oh, ternyata begitu.
“Makanya Bunda, Abel pingin cepat-cepat masuk sekolah. Supaya kalau Abel diundang ke acara ulang tahun, Abel bisa ikut main juga.”
Baiklah, nak! Semoga tahun ini kamu bisa masuk sekolah ya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar