Pages

Selasa, 31 Maret 2015

Em Se Es


Credit Pict: iStokphoto.com

          Saya bersyukur, sejak usia Abel empat tahun, dia sudah mulai fasih mengucapkan banyak dan paham banyak arti kata. Dia sudah bisa mengucapkan huruf ‘r’ dengan sempurna ketika berumur 3,5 tahun, dia juga sudah bisa mengucapkan huruf ‘s’ dan ‘f’ dengan baik. Itu yang membahagiakan saya dan Mr. Salmi, ayahnya.
Namun untuk kata-kata tertentu, dia masih suka terbalik-balik mengucapkannya. Misalnya saat dia mengucapkan kata ‘em se es’ dari kata ‘es em es’ (SMS).
Jadi, setiap kali handphone saya atau handphone suami berbunyi sementara salah satu dari kami tidak sedang berada dekat benda tersebut, dia akan berteriak memanggil sang pemilik telepon genggam yang sedang berbunyi.
“Bundaaaa…ada yang telepooon..” atau…
“Ayaaah…ada yang telepooon…”
Yang pasti saat handphone salah satu dari kami berbunyi, dia sudah hapal itu suara handphone milik, soalnya kadang ring tone-nya, dia yang atur siiih… Juga, dia tahu mana suara untuk penggilan telepon masuk dan mana suara untuk pesan masuk.
Balik lagi soal ‘em se es’ dan bukannya ‘es em es’, saya dan suami tidak mempermasalahkan jika dia salah mengucapkan suatu kalimat atau kata. Lidah anak kecil butuh penyesuaian untuk mengucapkan kalimat atau kata yang bahkan jika diucapkan oleh orang dewasa saja, agak ribet. Contohnya kata ‘es em es’. Coba jika kata tersebut diucapkan dengan tepat dan benar, kitapun butuh jeda waktu sepersekian detik setelah mengucapkan ‘es’, ‘em’ dan ‘es’, agar terdengar sempurna.
Bandingkan saat pengucapan ‘es em es’ dengan ‘em se es’, tentu lebih cepat jika kita mengucapkan kata kedua. Namun, jika ‘em se es’ diucapkan menjadi ‘em es es’ sesuai pengucapan masing-masing huruf, maka posisinya akan menjadi sama seperti jika mengucapkan ‘es em es, yang artinya butuh jeda waktu sepersekian detik pengucapan untuk tiap-tiap huruf tersebut. Namun itulah uniknya lidah anak kecil, mereka memilih mengucapkan yang mudah, yang tanpa membutuhkan jeda waktu sepersekian detik tersebut. Yang mereka tahu, pokoknya enak dan mudah diucapkan. Itu saja.
Namun demikian, meski kami tidak pernah menyalahkan pengucapannya, saya dan Mr. Salmi tetap mengajarkan bagaimana pengucapan kalimat atau kata yang benar. Tidak hanya untuk contoh ‘em se es’ ini saja. Tanpa pemaksaan. Sekadar memberi tahu saja. Lalu biarkan lidahnya menyesuaikan dengan kemampuan pengucapan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar