Pages

Selasa, 31 Maret 2015

Cukcang


Gambar: istockphoto.com

Putra saya Abel (4 tahun) paling senang bermain Cukcang bersama ayahnya. Jika sedang menangani banyak pekerjaan, suami saya akan berangkat pagi-pagi sekali dan baru akan pulang menjelang malam. Sementara saya, lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Menulis dan bermain bersama Abel.
Bermain bersama tak lengkap rasanya jika semua anggota keluarga belum hadir. Begitu suami sampai di rumah, setelah beliau mandi dan makan malam bersama, kami akan duduk di ruang tamu yang sekaligus menjadi ruang keluarga. Di situ ada sebuah tivi besar, namun saat bersama seperti ini, kami sengaja tidak menghidupkan tivi. Berdasarkan pengalaman, kualitas kebersamaan kami akan berkurang seandainya kami menghidupkan tivi sambil bermain. Apakah Ayah yang mendelik ke tivi karena kebetulan ada tayangan sepak bola atau putra kami yang tersihir dengan tayangan ‘Tujuh Binatang Teraneh di Dunia’. Sementara saya memang tidak begitu menyukai aktifitas menonton tivi.
Jadi, selepas makan, kami duduk di atas karpet di ruang tamu ini. Kalau sudah berkumpul di ruang ini, suami saya suka sekali merebahkan badan. Mungkin karena masih lelah. Meski lelah, suami saya tetap tidak ingin kehilangan waktu bersama, apalagi di jam-jam prime time seperti itu. Saat rebahan, suami mengajak Abel bercanda dan bermain Cukcang. Itu dilakukannya sejak Abel masih bayi, makanya putra kami sudah terbiasa bermain Cukcang bersama ayahnya. Suami saya akan menekuk kedua kakinya dengan rapat sehingga posisi lutut akan tegak ke atas. Begitu menyebut kata ‘Cukcang’ dan melihat ayahnya menekuk lutut, Abel akan langsung duduk di atas kaki ayahnya sambil tangannya memegang erat-erat kedua kaki ayahnya. Sementara itu, sang Ayah akan memegang tangan Abel dengan kuat. Lalu tungkai  kaki yang ditekuk tadi dan bagian kaki bawah yang diduduki Abel, akan diangkat setinggi mungkin, yang otomatis Abel juga akan ikut terangkat. bahkan muka Abel nyaris Diturunkan lagi, lalu diangkat lagi, begitu seterusnya, dilakukan berulang-ulang sampai sama-sama merasa capek. Persis seperti main ayun. Bedanya, ini pakai kaki. Biasanya sih Ayah Abel yang duluan capek. Si Abel mah, asik-asik saja kalau diajak main begitu.  Karena tungkai suami saya sangat panjang, tak jarang saat dicukcang, Abel bukan hanya terangkat tinggi-tinggi ke atas, tak jarang tubuhnya juga dibawa ke atas tubuh ayahnya. Sambil mengayunkan kaki ke atas, biasanya akan diselingi dengan teriakan ‘Cuuukcaaaaang…Cuuukcaaang…’ bersama-sama. Bahkan saya yang cuma jadi supporter, juga ikut meneriakkan ‘Cuuukcaaaang…’ supaya lebih seru dan ramai.
Setelah puas bermain Cukcang, kami akan mendengarkan celoteh-celoteh lucu dari Abel; yang kadang bikin kami tertawa terpingkal-pingkal. Misalnya saat Abel sedang berhitung dalam bahasa Inggris, menyebut angka dari 1 sampai 30 dalam bahasa Inggris. Dia biasa melakukannya setiap malam, tanpa diminta. Suatu malam, Abel berhenti di angka ‘eleven’ sambil bertanya; "Ayah, sebelas mirip kayak gajah kalau dalam bahasa Inggris." Awalnya kami tidak mengerti apa yang dimaksudnya, sampai kemudian Abel melanjutkan; "Kan sebelas, ‘eleven’. Gajah dalam bahasa Inggris kan elepen (elephant). Mirip kaaaan?" Mendengar jawabannya, kami tertawa bersama lalu sama-sama mencium pipinya. Saya di pipi kiri dan suami saya di pipi kanan. Saat sama-sama capek sehabis bermain Cukcang, aku akan menghidangkan teh panas untukku dan suamiku, dan teh hangat untuk Abel.
Alangkah bahagianya melihat buah hati tumbuh sehat dan cerdas.  Alangkah bahagia bisa meluangkan waktu bersama keluarga, meski hanya dengan Cukcang lima belas menit.  Cukcang merekatkan kebersamaan kami sejak dulu, seperti Teh Sariwangi yang menghangatkan kebahagiaan kami.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar