Malam itu, saya mendongeng untuk Abel. Dongengnya tidak diambil/dibaca dari buku mana pun, melainkan saya karang sendiri. Karna sudah terlanjur berjanji sama Abel bahwa saya akan mendongenginya, sementara saya tak punya persiapan apa-apa (persiapan dongeng yang baik), maka dongeng untuknya adalah dongeng dengan pembuka dongeng jamannya saya dan emak-emak lainnya masih kecil; ‘Pada jaman dahulu kala..’ :D
Saya: “Di sebuah kerajaan, seorang raja dan permaisurinya hidup bahagia.”
Abel: “Permaisuri itu apa, Bunda?”
Saya : “Permaisuri adalah istri raja. Jadi begini, ibaratnya kalau raja itu ayah, maka permaisurinya adalah Bunda” *sambil dalam hati saya bilang; ‘eeaaa… :D’
Saya melanjutkan dongeng saya lagi…
Saya: “Raja dan permaisuri memiliki seorang pangeran kecil yang sangaaaaaaat tampan. Pangeran tampan itu bernama pangeran Abel… “
Tiba-tiba Abel menyela…
Abel: “Hiyaaaaa..itu Abel ya, Bunda?” *sambil Abel menunjuki dirinya sendiri*
Saya: “Iya, dong!”
Selanjutnya, setiap kali saya menyebut ‘pangeran Abel’, Abel pasti menyela…’itu Abel, kaaan?’
Saya melanjutkan dongengnya sambil berpikir keras mau saya bawa mana dongeng saya ini.
Saya: Selama hidupnya, pangeran Abel hanya boleh bermain di dalam istana. Pada suatu hari, pangeran Abel merasa bosan hanya bermain di istana saja. Dia ingin bermain di luar istana bersama anak-anak lainnya. Pangeran Abel ingin meminta ijin pada ‘Ibunda permasuri’, terlebih dahulu. ‘Ibunda Permausri, bisakah ananda bermain di luar istana?’ Permaisuri menjawab ‘tentu saja anakku, Ibunda tidak keberatan, tapi kau harus meminta ijin ayahanda raja.’
Tiba-tiba Abel menyela lagi…
Abel: “Ayahnya di mana bunda?”
Saya: “Ayahnya sedang duduk di singgasana yang…”
Abel menyela lagi…
Abel: “Abel nggak ngerti bunda.”
Saya: “Nggak ngerti apanya, nak?”
Abel: “Nggak ngerti singgasana.”
Dan gara-gara untuk ke sekian kalinya menemukan kata yang tidak dimengerti dari yang saya ucapkan, Abel tak berminat lagi mendengarkan dongeng dari saya. Dia membalikkan badannya, membelakangi saya dan langsung memeluk gulingnya.
Selamat tidur ya, nak. Semoga mimpi indah. Bunda berjanji akan menunjukkan singgasana yang kau maksud tadi hingga kau mengerti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar